Kamis, 21 Februari 2013

Ketua KEN: "Belilah Masa Depan dengan Harga Sekarang!"

"Kita perlu mengetahui apa yang akan terjadi secara global, tidak lain dan tidak bukan, di dunia usaha dan pemerintahan, siapa yang bisa mengetahui trend yang terjadi ke depan, dia bisa "membeli" masa depan dengan "harga sekarang". Sehingga pada saat eranya datang, dia akan paling siap dibanding negara lain. Begitu juga dunia usaha, yang paling siap akan menang dalam kompetisi pada saat era marketnya datang. Gelombang datang tidak seperti tsunami, biasanya ada staging, ada tahapan, jadi itulah gunanya kita bisa membeli masa depan dengan harga sekarang, dan biasanya biayanya jauh lebih murah, mungkin 1/100, 1/1000, bahkan mungkin 1/1000.000 kali," ungkap Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung dalam forum terbatas Outlook Perekonomian Indonesia Tahun 2013: Wajah Perekonomian Indonesia Tahun 2013 dan Peran Perpajakan di Dalam Pembangunan, di Gedung Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, 15 Februari 2013.
Dipaparkan oleh Chairul bahwa dunia sejak kelahiran Nabi Isa a.s. (sekitar Tahun 0 Masehi) s.d. tahun 1800-an secara ekonomi dikuasai oleh Asia. Ini berbeda dengan asumsi umum bahwa seolah-olah Eropa atau Barat sudah sejak dulu menguasai dunia. Menurut Chairul, negara-negara yang menguasai dunia sepanjang waktu itu adalah Cina dan India. Baru setelah terjadi Revolusi Industri yang dimulai di Perancis, Barat mengambil alih secara sangat drastis perekonomian dunia. Asia jatuh hingga hanya menguasai 20% perekonomian dunia. Ternyata IPTEK bisa mengubah peta dunia, tandas Chairul.
"Baru mulai tahun 1970-an, perusahaan Jepang mulai membeli perusahaan Amerika terjadi shifting, perekonomian dunia "mulai" kembali dikuasai secara bertahap, prosentasenya tumbuh dan pada saatnya akan kembali menguasai perekonomian dunia," ujar Chairul.

Chairul mengingatkan bahwa beberapa institusi internasional ternama sudah memprediksikan bahwa pada tahun 2050 Asia akan kembali menguasai mayoritas ekonomi dunia. Melihat perkembangan yang terjadi di Barat, Amerika dan Eropa sekarang, kemungkinan tidak sampai tahun 2050, bisa jadi akan lebih cepat, 2045 bahkan 2040 Asia diperkirakan sudah akan mengontrol perekonomian dunia kembali.
Ada tiga kelompok negara asia yang diperkirakan mengontrol ekonomi dunia, yaitu pertama, ASIA TIMUR (Greater China) dimana China sebagai core, ada Jepang, Korea, Taiwan, Hong Kong, Macau, dll.; Meski secara geopolitik bersinggungan, secara geoekonomi mereka akan bersinergi. Saat ini Greater China adalah pusat kekuatan ekonomi di Asia paling tidak sampai 10 tahun ke depan masih akan menjadi lead. Yang kedua ASIA SELATAN dimana India sebagai core. Dalam waktu tidak lama, India akan melampaui Cina dari jumlah penduduk. Cina mengambil 1 child policy, India mengambil many children policy. Satu saat India akan mencapai 2 milyar orang, melebihi Cina yang sekarang lebih dari 1 milyar. Yang ketiga adalah negara-negara di ASIA TENGGARA, ada 10 yang tergabung dalam Asean, core-nya saat ini adalah Indonesia, menguasai 40% ekonomi Asia Tenggara, diramalkan in the future menguasai >50%, menjadi GREATER INDONESIA. "Saat ini saja, Indonesia sudah bukan menjadi negara terjajah lagi, apalagi nanti," ucap Chairul.
Saat ini Indonesia menjadi negara terbesar nomor 15 perekonomian dunia. Indonesia masuk dalam G-20, dimana negara yang tergabung dalam G-20 bukan negara yang pengaruhnya paling besar, melainkan negara dengan 20 Sizing Economy terbesar di dunia. Satu-satunya negara di ASEAN yang masuk anggota G-20 hanya Indonesia. Saat ini Indonesia memiliki 55 juta tenaga kerja terlatih, nanti di 2030 jadi 113 juta. Sekarang $0,5 triliun potensi pasar produk, nanti pada 2030 akan 1,8 triliun dolar. "Dan yang terpenting: sekarang >50 juta consuming class, nanti 2030 diharapkan jadi 170 juta consuming class. Disinilah target pajak yang utama!" kata Chairul.
Consuming Class menurut McKinsey: Orang yang spending, belanjanya, lebih dari 10 dollar rata-rata per hari per orang. Jadi sebulan rata-rata mengeluarkan 3 juta rupiah per orang. 1 keluarga dengan 2 anak berarti menghabiskan 12 juta rupiah per bulan. IMF memproyeksikan Indonesia akan mempunyai pertumbuhan ekonomi tercepat di antara negara-negara G-20. Proyeksi pertumbuhan (CAGR) PDB Nominal (bukan riil) dunia 2012-2017 adalah 15,5% per tahun. Artinya pertumbuhan ekonomi Indonesia secara nominal akan tumbuh sedemikian dalam 5 tahun ke depan. "Menghitung Growth Pendapatan Pajak, base-nya harus pakai ini. Jadi, seandainya collection perpajakan kita lebih daripada pertumbuhan GDP nominal kita, maka kelebihan itu harus dihargai sebagai keberhasilan upaya peningkatan intensifikasi maupun ekstensifikasi daripada wajib pajak. Jika nominal ini wajib, kelebihannya adalah upaya," jelas Chairul.
Saat ini Indonesia masuk dalam kelompok negara berpendapatan menengah (middle income) dan akan jadi high-income country pada tahun 2025. Indonesia telah membuktikan daya tahan terhadap krisis global yang terjadi tahun 2008/2009. Di saat guncangan ekonomi global mempengaruhi ekspor, konsumsi domestik dan investasi menjadi sumber pertumbuhan bagi perekonomian Indonesia. Pertumbuhan PDB: Domestic consumption (belanja rumah tangga) akan berkontribusi 2,6-2,9% angka pertumbuhan PDB 2013. Investasi 2,7-2,8% dalam PDB 2013. Net ekspor hanya sebesar 0,0-0,2% dalam pertumbuhan PDB 2013. Belanja pemerintah tidak terlalu signifikan berkontribusi dalam pertumbuhan PDB dalam negeri. "Kita semua, swasta dan pemerintah, termasuk DJP, harus menjaga pertumbuhan PDB. Kalau tidak dijaga, maka tidak tumbuh, kalau tidak tumbuh, apa yang mau di-collect?" cetus Chairul.
Menurut Chairul, Indonesia telah memiliki modal dasar dan berada di jalur yang benar dalam mencapai visi sebagai negara maju. "Indonesia bisa menjadi negara maju jika sudah memiliki bangunan. Pondasinya adalah sistem, NKRI. Pilarnya ada 3: Pembangunan manusia, Proses produksi dan kekayaan alam Indonesia, dan Pengelolaan pembangunan," imbuh Chairul.
Jumlah penduduk Indonesia, lanjut Chairul, sudah bagus tinggal bangun kualitas. Dalam hal Kualitas penduduk Indonesia harus terdidik, harus pintar, kalau banyak, bodoh, jadi beban pembangunan. Harus sehat juga. Pembangunan manusia harus seutuhnya, kualitas, kuantitas, dan jiwa. Dalam hal proses produksi harus dengan penciptaan nilai tambah melalui proses industry dan berbagai elemen pendukungnya. Batu bara, harusnya ekspor baranya, batunya jangan, energinya saja. Kekayaan alam Indonesia harus dikelola melalui sektor pertanian, pariwisata, lingkungan hidup. "Semua itu baru bisa ditegakkan kalau pengelolaan pembangunan baik, dukungan pemerintah dan birokrasi yang efektif," ujar Chairul.
Tantangan sekarang, imbuh Chairul, adalah pemerataan kesejahteraan. Saat ini ada 29 juta jiwa penduduk miskin, yaitu yang pengeluaran kurang dari 250 ribu per orang per bulan. Keluarga yang pengeluaran kurang dari 1 juta per bulan disebut keluarga miskin. Jika dinaikkan sedikit menjadi 1,5 juta per bulan per keluarga, jumlahnya jadi 70 juta jiwa penduduk berstatus rentan. Kelompok Menengah Indonesia ada 100 juta jiwa dan Kelas Atas 50 juta jiwa. Tapi WP masih minim yang bayar pajak dan baru 12,5 juta ber-NPWP. Menurut Chairul, agar masyarakat mau ber-NPWP dan bayar pajak maka kepercayaan rakyat terhadap pemerintah harus ditingkatkan dan memenuhi ekspetasi rakyat kepada pemerintah yang semakin tinggi. "Ekspektasi masyarakat terhadap pelayanan publik makin lama makin tinggi, karena makin mengerti hak. Di Amerika biasa rakyat marahin polisi. I pay your salary. I am a taxpayer!" ucap Chairul.
Dirjen Pajak Fuad Rahmany menanggapi positif diskusi forum terbatas antar DJP dan KEN. "Pemaparan dan respon yang sangat bermutu. Pak CT sangat independen. DJP juga belajar bicara dan berbuat Out of the Box. Yang terpenting jangan hanya wacana terus. Harus ada Action! Diharapkan KEN dan DJP lebih sering bertemu dan berdiskusi. Karena Pajak adalah Instrumen untuk kestabilan, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. Membeli masa depan dengan harga sekarang, harus jadi tema DJP ke depan. Selalu melihat ke depan. Perspektif kita sudah dibuka, sehingga tidak jadi katak dalam tempurung, meski pekerjaan kita mikro, tapi kita berjalan dengan memahami lingkungan sekitar, dan mudah-mudahan pemaparan ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua," tandas Fuad.
http://www.pajak.go.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar