Oleh Dedy Antropov, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Mungkin pada saat ini kondisi media dalam kehidupan sehari-hari merupakan kondisi yang sangat diharapkan sejak lama. Bisa dikatakan setiap media bebas mengungkapkan berita. Akan tetapi kebebasan dalam mengungkapkan berita tersebut mengakibatkan munculnya berbagai bad news dan good news yang senantiasa bersliweran di masyarakat. Serangkaian bad news secara mudah dikenali melalui simptomnya yang khas terutama soal pemberitaan terkait pajak seperti tingkah laku pegawai pajak yang korup, penyuapan hingga usaha pegawai pajak untuk kongkalikong dengan wajib pajak. Arah medialah yang pada akhirnya berhasil menggiring opini publik untuk mengecap buruk pemberitaan terkait pajak
Bad news yang lebih mencorong ketimbang good news seputar pajak mengakibatkan berbagai prestasi yang dihasilkan oleh DJP tidak lagi terdengar. Masyarakat lebih ingat dengan nama-nama Gayus, Dhana, atau oknum-oknum pegawai pajak lainnya ketimbang peran pajak yang mencapai 74,9 persen terhadap pendapatan negara. Bahkan masyarakat jauh lebih fasih jumlah milyaran harta Gayus ketimbang berapa porsi pembagian anggaran triliunan uang pajak dalam menopang subdisi bahan bakar minyak, fasilitas kesehatan hingga pendidikan yang selama ini dekat dengan mereka. Peran pajak sebagai sosok penting penyeimbang pembiayaan negara nyaris tak pernah diberitakan. Masyarakat lebih mengecap pajak dengan kondisi kronis sebagai sarang koruptor.
Mungkin pada saat ini kondisi media dalam kehidupan sehari-hari merupakan kondisi yang sangat diharapkan sejak lama. Bisa dikatakan setiap media bebas mengungkapkan berita. Akan tetapi kebebasan dalam mengungkapkan berita tersebut mengakibatkan munculnya berbagai bad news dan good news yang senantiasa bersliweran di masyarakat. Serangkaian bad news secara mudah dikenali melalui simptomnya yang khas terutama soal pemberitaan terkait pajak seperti tingkah laku pegawai pajak yang korup, penyuapan hingga usaha pegawai pajak untuk kongkalikong dengan wajib pajak. Arah medialah yang pada akhirnya berhasil menggiring opini publik untuk mengecap buruk pemberitaan terkait pajak
Bad news yang lebih mencorong ketimbang good news seputar pajak mengakibatkan berbagai prestasi yang dihasilkan oleh DJP tidak lagi terdengar. Masyarakat lebih ingat dengan nama-nama Gayus, Dhana, atau oknum-oknum pegawai pajak lainnya ketimbang peran pajak yang mencapai 74,9 persen terhadap pendapatan negara. Bahkan masyarakat jauh lebih fasih jumlah milyaran harta Gayus ketimbang berapa porsi pembagian anggaran triliunan uang pajak dalam menopang subdisi bahan bakar minyak, fasilitas kesehatan hingga pendidikan yang selama ini dekat dengan mereka. Peran pajak sebagai sosok penting penyeimbang pembiayaan negara nyaris tak pernah diberitakan. Masyarakat lebih mengecap pajak dengan kondisi kronis sebagai sarang koruptor.