Direktur
Jenderal Pajak, A. Fuad Rahmany mengatakan bahwa syarat pemimpin yang
baik adalah pemimpin yang berhasil menyiapkan penggantinya. Demikian
dikatakan Fuad kepada peserta Diklatpim III Angkatan 49-50 dan Diklatpim
IV Angkatan 173 di Balai Pendidikan dan Latihan Kepemimpinan Magelang
tanggal 18 April 2013. Peserta Diklatpim yang terdiri dari pejabat
Eselon III dan IV merupakan motor penggerak birokrasi, oleh karenanya
tidak boleh bersikap “bossy” dan minta dilayani sehingga mengesampingkan
hal-hal yang bersifat teknis.
Setiap konsep pekerjaan dari bawahan harus dianalisa terlebih dahulu sebelum ditandatangani karena menurut Fuad mereka telah mengalami jenjang karir yang cukup untuk mengetahui detail pekerjaan tersebut. Fuad juga menekankan bahwa alur pekerjaan memerlukan kepedulian kita. Jangan sampai kita merasa suatu konsep pekerjaan dianggap selesai ketika sudah kita serahkan ke pihak lain. Kita harus peduli dengan nasib pekerjaan itu sehingga kita tahu pasti dimana posisi dan statusnya.
Terkait dengan prinsip kepemimpinan, Fuad membandingkan era ketika dia memimpin BAPEPAM dimana jumlah pegawainya hanya sebanyak 1.200 orang dan berkantor di satu gedung. Semenjak memimpin Ditjen Pajak, Fuad membawahi pegawai sebanyak 32.000 orang dan tersebar dari Sabang sampai Merauke. Komposisi jumlah dan penyebaran pegawai tersebut tentu saja mengubah pola kepemimpinan yang dia anut.
“Ketika memimpin BAPEPAM saya bisa bertemu langsung dengan pegawai saya, di Direktorat Jenderal Pajak hal tersebut sulit saya lakukan,” ujar Fuad. Oleh karenanya dia harus mendelegasikan sebagian besar wewenangya kepada para Kepala Kantor Wilayah. Kepala Kanwil-lah yang bertugas secara langsung membina para pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) di lapangan. Terkait hal tersebut, proses pemilihan dan pengangkatan Kepala Kanwil harus didasarkan pada kriteria yang jelas yaitu rekam jejak dan prestasi kerja. Pola kedekatan pertemanan harus diabaikan bahkan dihilangkan ketika kita memilih seorang pemimpin, demikian imbuh Fuad.
Meski demikian Fuad berprinsip bahwa sesekali dia harus menyapa langsung anak buahnya.Hal itu dia lakukan untuk member motivasi dan membangkitkan semangat kerja anak buahnya yang jumlahnya puluhan ribu. Terkait dengan peran DJP dalam mengamankan penerimaan Negara dari sektor perpajakan, Fuad mengatakan bahwa DJP menghadapi tantangan yang amat berat. Target pajak tiap tahun selalu naik secara signifikan.
Tahun 2013 untuk pertama kalinya, target penerimaan pajak menyentuh angka di atas Rp 1.000 triliun. Fuad mengatakan bahwa target sebesar itu memerlukan upaya yang luar biasa dari seluruh pegawainya. Sumber daya manusia memegang peranan yang amat penting dalam keberhasilan pengumpulan uang pajak. Di sisi lain DJP selalu diterpa masalah terkait dengan integritas pegawainya.
Fuad mengatakan bahwa integritas merupakan harga mati bagi pegawai pajak, oleh karenanya pelanggaran atas hal itu tidak akan pernah ditolelir. Pengawasan terhadap seluruh pegawai Ditjen Pajak senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan, diantaranya dengan menerapkan “Whistle Blowing System”. “Anda tidak cukup hanya menjadi orang jujur sendirian, tapi anda harus peduli juga dengan kejujuran teman sekeliling anda," demikian tegas Fuad. Selain dari sisi mental aparat, Fuad juga menegaskan bahwa para Wajib Pajak tak henti-hentinya berusaha menggoda aparat pajak agar mau bekerja sama memanipulasi besaran pajaknya.
http://www.pajak.go.id/content/news/jadilah-pemimpin-yang-mampu-melakukan-kaderisasi
Setiap konsep pekerjaan dari bawahan harus dianalisa terlebih dahulu sebelum ditandatangani karena menurut Fuad mereka telah mengalami jenjang karir yang cukup untuk mengetahui detail pekerjaan tersebut. Fuad juga menekankan bahwa alur pekerjaan memerlukan kepedulian kita. Jangan sampai kita merasa suatu konsep pekerjaan dianggap selesai ketika sudah kita serahkan ke pihak lain. Kita harus peduli dengan nasib pekerjaan itu sehingga kita tahu pasti dimana posisi dan statusnya.
Terkait dengan prinsip kepemimpinan, Fuad membandingkan era ketika dia memimpin BAPEPAM dimana jumlah pegawainya hanya sebanyak 1.200 orang dan berkantor di satu gedung. Semenjak memimpin Ditjen Pajak, Fuad membawahi pegawai sebanyak 32.000 orang dan tersebar dari Sabang sampai Merauke. Komposisi jumlah dan penyebaran pegawai tersebut tentu saja mengubah pola kepemimpinan yang dia anut.
“Ketika memimpin BAPEPAM saya bisa bertemu langsung dengan pegawai saya, di Direktorat Jenderal Pajak hal tersebut sulit saya lakukan,” ujar Fuad. Oleh karenanya dia harus mendelegasikan sebagian besar wewenangya kepada para Kepala Kantor Wilayah. Kepala Kanwil-lah yang bertugas secara langsung membina para pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) di lapangan. Terkait hal tersebut, proses pemilihan dan pengangkatan Kepala Kanwil harus didasarkan pada kriteria yang jelas yaitu rekam jejak dan prestasi kerja. Pola kedekatan pertemanan harus diabaikan bahkan dihilangkan ketika kita memilih seorang pemimpin, demikian imbuh Fuad.
Meski demikian Fuad berprinsip bahwa sesekali dia harus menyapa langsung anak buahnya.Hal itu dia lakukan untuk member motivasi dan membangkitkan semangat kerja anak buahnya yang jumlahnya puluhan ribu. Terkait dengan peran DJP dalam mengamankan penerimaan Negara dari sektor perpajakan, Fuad mengatakan bahwa DJP menghadapi tantangan yang amat berat. Target pajak tiap tahun selalu naik secara signifikan.
Tahun 2013 untuk pertama kalinya, target penerimaan pajak menyentuh angka di atas Rp 1.000 triliun. Fuad mengatakan bahwa target sebesar itu memerlukan upaya yang luar biasa dari seluruh pegawainya. Sumber daya manusia memegang peranan yang amat penting dalam keberhasilan pengumpulan uang pajak. Di sisi lain DJP selalu diterpa masalah terkait dengan integritas pegawainya.
Fuad mengatakan bahwa integritas merupakan harga mati bagi pegawai pajak, oleh karenanya pelanggaran atas hal itu tidak akan pernah ditolelir. Pengawasan terhadap seluruh pegawai Ditjen Pajak senantiasa dikembangkan dan ditingkatkan, diantaranya dengan menerapkan “Whistle Blowing System”. “Anda tidak cukup hanya menjadi orang jujur sendirian, tapi anda harus peduli juga dengan kejujuran teman sekeliling anda," demikian tegas Fuad. Selain dari sisi mental aparat, Fuad juga menegaskan bahwa para Wajib Pajak tak henti-hentinya berusaha menggoda aparat pajak agar mau bekerja sama memanipulasi besaran pajaknya.
http://www.pajak.go.id/content/news/jadilah-pemimpin-yang-mampu-melakukan-kaderisasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar