Oleh M. Yusuf Adikusuma, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Suatu hari, saya bersama istri pergi ke kantor sebuah asuransi kendaraan bermotor untuk mengklaim pergantian beberapa bagian mobil yang rusak. Selain karena kondisi dan berbagai macam cacat di mobil yang sudah seperti panu yang menjalar di tubuh manusia, ternyata batas akhir untuk pengajuan klaim sudah mendekati jatuh tempo. Itulah sebabnya kami sepakat harus segera dilaksanakan perbaikan kendaraan kami. Memang mobilnya cuma "mobil sejuta umat" , tidak semewah dan secanggih layaknya kendaraan samaran robot-robot Transformers. Tapi fungsinya sangat vital untuk transportasi sehari-hari mengingat tidak terakomodirnya kebutuhan akan kendaraan umum di kota tempat saya berdomisili.
Ketika sampai di kantor tersebut, satpam membukakan pintu sembari mengucap salam dan menanyakan keperluan kami. Tuturan yang ramah seolah mendorong saya untuk ikut berkata lembut juga ditambah sedikit segan memasuki ruangan yang minimalis namun asri tersebut. Saya dan istri lalu duduk menunggu panggilan antrian. Di bangku menunggu sudah disediakan air mineral gelas dan permen sebagai cemilan pembunuh waktu. Tak menunggu lama, kami pun dipanggil mendatangi satu meja pelayanan. Petugasnya menyapa kami ramah seolah sudah mengenal lama. Perlahan dan penuh sabar mbak-mbak tadi menerangkan beberapa hal yang memang menjadi prosedur pengurusan klaim. Pembawaan yang sopan lantas membuat saya dan istri ikut sopan pula saat menanyakan sesuatu. DI tengah pembicaraan, ternyata minuman sudah diantar seorang pramusaji yang memakai baju seragam yang sama dengan baju pegawainya. Rasanya seperti bertamu ke rumah saudara. Singkat cerita, klaim berjalan lancar dan pada akhirnya mobilpun masuk ke bengkel rekanan mereka. Prosesnya juga tidak berbelit-belit dan juga sangat mudah.
Yang jadi pemikiran saya adalah, mungkin seperti inilah yang disebut pelayanan prima. Tak salah jika rasa puas langsung dirasakan saya dan istri meski tidak terucap secara langsung. Sewaktu menjalani pendidikan Pra-jabatan, saya teringat materi "Pelayanan Prima" sudah diajarkan, lantas apakah sudah diterapkan? Itu yang terus menelusup di pikiran setelah dilayani sangat baik oleh kantor asuransi tadi. Sadar tidak sadar, sesekali pernah melihat Wajib Pajak yang raut mukanya bete setelah keluar dari Tempat Pelayanan Terpadu (TPT), mungkin melihat itu ada semacam perasaan tidak enak dalam hati. Prasangka publik akan aparat pajak boleh jadi makin buruk ketika pelayanan di TPT saja tidak becus. Apalagi berbagai macam kasus yang sering diangkat media mengenai beberapa oknum petugas pajak. Bisa jadi hal itu yang membuat orang-orang beranggapan, "Semua orang pajak sama saja".
Sebelum pengalaman dengan asuransi tadi, masih banyak pengalaman yang saya rasakan setelah mendapatkan pelayanan prima. Tak jarang juga menerima layanan yang jauh dari kata puas. Sederhananya, ketika sudah dilayani dengan baik, tentu ada perasaan ingin datang lagi. Namun jika sebaliknya, dalam hati menggumam "kalau tidak terpaksa karena hal penting gak akan datang lagi ke tempat itu." Di rumah demikian, istri akan memasang mimik muka kerut di kala kebutuhan harian rumah tangga tidak saya penuhi. Intinya, hati ikutan puas jika orang lain yang membutuhkan layanan kita juga puas.
Ya itulah pengalaman saya tentang mendapatkan pelayanan prima. Sebagai makhluk sosial, manusia pada dasarnya ingin kebutuhannya terpenuhi termasuk ingin dilayani sebaik mungkin. Setiap orang pernah merasakan pengalaman dilayani dengan baik atau sebaliknya. Pertanyaannya adalah, sanggupkah melakukan pelayanan prima secara konsisten?
*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.
http://www.pajak.go.id/content/article/melayani-dengan-sepenuh-hati-tanpa-harus-makan-hati
Suatu hari, saya bersama istri pergi ke kantor sebuah asuransi kendaraan bermotor untuk mengklaim pergantian beberapa bagian mobil yang rusak. Selain karena kondisi dan berbagai macam cacat di mobil yang sudah seperti panu yang menjalar di tubuh manusia, ternyata batas akhir untuk pengajuan klaim sudah mendekati jatuh tempo. Itulah sebabnya kami sepakat harus segera dilaksanakan perbaikan kendaraan kami. Memang mobilnya cuma "mobil sejuta umat" , tidak semewah dan secanggih layaknya kendaraan samaran robot-robot Transformers. Tapi fungsinya sangat vital untuk transportasi sehari-hari mengingat tidak terakomodirnya kebutuhan akan kendaraan umum di kota tempat saya berdomisili.
Ketika sampai di kantor tersebut, satpam membukakan pintu sembari mengucap salam dan menanyakan keperluan kami. Tuturan yang ramah seolah mendorong saya untuk ikut berkata lembut juga ditambah sedikit segan memasuki ruangan yang minimalis namun asri tersebut. Saya dan istri lalu duduk menunggu panggilan antrian. Di bangku menunggu sudah disediakan air mineral gelas dan permen sebagai cemilan pembunuh waktu. Tak menunggu lama, kami pun dipanggil mendatangi satu meja pelayanan. Petugasnya menyapa kami ramah seolah sudah mengenal lama. Perlahan dan penuh sabar mbak-mbak tadi menerangkan beberapa hal yang memang menjadi prosedur pengurusan klaim. Pembawaan yang sopan lantas membuat saya dan istri ikut sopan pula saat menanyakan sesuatu. DI tengah pembicaraan, ternyata minuman sudah diantar seorang pramusaji yang memakai baju seragam yang sama dengan baju pegawainya. Rasanya seperti bertamu ke rumah saudara. Singkat cerita, klaim berjalan lancar dan pada akhirnya mobilpun masuk ke bengkel rekanan mereka. Prosesnya juga tidak berbelit-belit dan juga sangat mudah.
Yang jadi pemikiran saya adalah, mungkin seperti inilah yang disebut pelayanan prima. Tak salah jika rasa puas langsung dirasakan saya dan istri meski tidak terucap secara langsung. Sewaktu menjalani pendidikan Pra-jabatan, saya teringat materi "Pelayanan Prima" sudah diajarkan, lantas apakah sudah diterapkan? Itu yang terus menelusup di pikiran setelah dilayani sangat baik oleh kantor asuransi tadi. Sadar tidak sadar, sesekali pernah melihat Wajib Pajak yang raut mukanya bete setelah keluar dari Tempat Pelayanan Terpadu (TPT), mungkin melihat itu ada semacam perasaan tidak enak dalam hati. Prasangka publik akan aparat pajak boleh jadi makin buruk ketika pelayanan di TPT saja tidak becus. Apalagi berbagai macam kasus yang sering diangkat media mengenai beberapa oknum petugas pajak. Bisa jadi hal itu yang membuat orang-orang beranggapan, "Semua orang pajak sama saja".
Sebelum pengalaman dengan asuransi tadi, masih banyak pengalaman yang saya rasakan setelah mendapatkan pelayanan prima. Tak jarang juga menerima layanan yang jauh dari kata puas. Sederhananya, ketika sudah dilayani dengan baik, tentu ada perasaan ingin datang lagi. Namun jika sebaliknya, dalam hati menggumam "kalau tidak terpaksa karena hal penting gak akan datang lagi ke tempat itu." Di rumah demikian, istri akan memasang mimik muka kerut di kala kebutuhan harian rumah tangga tidak saya penuhi. Intinya, hati ikutan puas jika orang lain yang membutuhkan layanan kita juga puas.
Ya itulah pengalaman saya tentang mendapatkan pelayanan prima. Sebagai makhluk sosial, manusia pada dasarnya ingin kebutuhannya terpenuhi termasuk ingin dilayani sebaik mungkin. Setiap orang pernah merasakan pengalaman dilayani dengan baik atau sebaliknya. Pertanyaannya adalah, sanggupkah melakukan pelayanan prima secara konsisten?
*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja.
http://www.pajak.go.id/content/article/melayani-dengan-sepenuh-hati-tanpa-harus-makan-hati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar